Timnas Australia
Fajar.co.id, Australia -- Wacana boikot Piala Dunia 2026 mulai merambah ke Australia. Negara yang sudah memastikan tiket ke putaran final itu kini mempertimbangkan untuk menarik diri, menyusul gelombang perdebatan serupa dari Jerman dan Iran.
Alasan utamanya bukan soal sepak bola, melainkan pertimbangan politik, terutama terkait konteks negara tuan rumah Amerika Serikat.
Panggung Global yang Tak Pernah Netral
John Frew, seorang pengamat kebijakan publik dan olahraga internasional, mendesak pemerintah dan federasi sepak bola Australia untuk memikirkan matang-matang langkah ini.
Menurutnya, sebuah turnamen sebesar Piala Dunia jarang sekali benar-benar bebas dari kepentingan politik. Setiap negara tuan rumah, ujarnya, mendapatkan legitimasi dan pengakuan global melalui perhelatan ini.
“Piala Dunia bukan hanya kumpulan pertandingan. Ia adalah panggung global yang memberi pengakuan dan status. Ketika sebuah negara menjadi tuan rumah, dunia pada dasarnya menyatakan bahwa negara itu layak dirayakan,” jelas Frew dalam pandangannya yang dipublikasi jurnal kebijakan publik, Johnmenadue, dikutip Kamis (12/2/2026).
Ia melanjutkan, isu-isu seperti kebijakan imigrasi yang keras dan gelombang nasionalisme di AS menjadi hal yang tak boleh diabaikan. Bagi Frew, olahraga tingkat tinggi selalu berkaitan dengan lanskap kekuasaan.
“Pertanyaannya adalah apakah Australia mau mengakui makna politik dari keikutsertaannya,” tuturnya.
Daftar Panjang Boikot dalam Sejarah Piala Dunia
Jika Australia benar-benar menarik diri, mereka bukanlah yang pertama. Sejarah mencatat sejumlah negara yang memilih absen karena alasan politis. Uruguay memulai tren ini dengan memboikot Piala Dunia 1934. Mereka kemudian diikuti oleh sederet negara lain.
Dapatkan berita terupdate dari FAJAR di:















































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4949345/original/036688600_1726886704-upset-asian-couple-sit-couch-living-room.jpg)


