7 Tanda Bahaya di Pernikahan Ini Sering Jadi Awal Mula Perceraian

10 hours ago 1

ringkasan

  • Perilaku di hari pernikahan, seperti membiarkan kerabat melampaui batas, dapat menjadi indikator kuat masalah rumah tangga di masa depan, menurut pengacara perceraian Michelle T. Dellino.
  • Kurangnya rasa hormat terhadap pasangan, baik melalui tindakan non-konsensual maupun pola komunikasi yang buruk, memprediksi kesulitan dalam hubungan dengan akurasi tinggi.
  • Ketidakjujuran finansial dan sikap meremehkan komitmen pernikahan adalah tanda bahaya serius yang seringkali berujung pada perceraian, menegaskan pentingnya transparansi dan kesiapan mental.

Fimela.com, Jakarta - Sahabat Fimela, pernikahan adalah momen sakral yang diidamkan banyak pasangan sebagai awal dari kebahagiaan abadi. Namun, tak jarang perilaku tertentu saat merencanakan atau di hari-H pernikahan justru menjadi sinyal peringatan dini akan masalah di kemudian hari. Michelle T. Dellino, seorang pengacara perceraian berpengalaman dengan 20 tahun di industri hukum keluarga, menegaskan bahwa 'perilaku pernikahan bukanlah simbolis, itu diagnostik'. Pernyataannya ini memberikan perspektif menarik bahwa ada "7 hal yang dilakukan di pernikahan" yang bisa menjadi "prediktor perceraian" yang kuat.

Dellino, CEO dan pengacara pendiri Dellino Family Law Group, telah menyaksikan ribuan kasus perceraian dan mengidentifikasi pola-pola perilaku yang seringkali berulang. Menurutnya, cara pasangan berinteraksi dan mengambil keputusan di sekitar pernikahan mereka dapat mencerminkan dinamika hubungan yang akan berlangsung. Memahami tanda-tanda ini sejak awal dapat membantu pasangan mengidentifikasi potensi masalah dan berupaya mengatasinya sebelum terlambat, demi menjaga keharmonisan rumah tangga.

Artikel ini akan mengupas tuntas "7 hal di pernikahan" yang menurut Dellino, seringkali menjadi pertanda buruk bagi masa depan hubungan. Dari interaksi dengan keluarga hingga masalah finansial dan pola komunikasi, setiap poin menawarkan wawasan berharga. Mari kita selami lebih dalam apa saja tanda-tanda bahaya ini agar Sahabat Fimela dapat membangun fondasi pernikahan yang lebih kuat dan langgeng.

Batasan dengan Keluarga: Ujian Pertama Hubungan

Salah satu prediktor perceraian yang paling dapat diandalkan, menurut Michelle T. Dellino, adalah kegagalan pasangan dalam menetapkan batasan yang jelas dengan mertua sejak awal pernikahan. Ia menyebutnya sebagai 'masalah pernikahan tiga pihak', di mana campur tangan keluarga dapat merusak otonomi pasangan. Ketika orang tua diizinkan membuat keputusan sepihak mengenai hal-hal seperti tempat pernikahan, menu makanan, atau daftar tamu, ini bisa menjadi indikasi bagaimana mereka akan ikut campur dalam keputusan penting lainnya di masa depan, seperti urusan rumah, keuangan, atau bahkan cucu.

Sebuah studi selama 26 tahun dari University of Michigan bahkan menemukan bahwa istri yang terlalu dekat dengan keluarga suami mereka 20% lebih mungkin untuk bercerai. Hal ini menyoroti pentingnya pasangan untuk bersatu dan menetapkan batasan yang sehat dengan keluarga besar. Komunikasi yang terbuka dan dukungan satu sama lain dalam menghadapi campur tangan pihak ketiga adalah kunci untuk membangun fondasi yang kokoh.

Tindakan Tidak Hormat dan Komunikasi yang Merusak

Tindakan melempar kue ke wajah pasangan secara non-konsensual, meskipun terlihat sepele, adalah tanda bahaya yang jelas. Dellino menjelaskan bahwa ini adalah pratinjau bagaimana persetujuan dan batasan akan ditangani sepanjang pernikahan. Kurangnya rasa hormat terhadap keinginan pasangan, bahkan dalam hal kecil, dapat berkembang menjadi masalah yang lebih besar. Demikian pula, jika salah satu pasangan secara konsisten berjalan jauh di depan pasangannya, baik saat menuju altar atau di resepsi, ini menunjukkan ketidaksetaraan dalam hubungan.

Pola komunikasi yang tidak hormat, seperti memutar mata, mengejek, atau memperlakukan pasangan dengan penghinaan, adalah prediktor perceraian yang sangat akurat. Menurut Dellino, pola-pola ini memprediksi perceraian dengan akurasi 94%. Jika perilaku ini sudah terlihat selama perencanaan pernikahan, ini adalah sinyal kuat bahwa ada masalah mendasar dalam dinamika hubungan yang perlu segera diatasi.

Masalah Finansial dan Komitmen yang Goyah

Pengeluaran berlebihan untuk pernikahan, terutama jika dilakukan secara rahasia, adalah masalah serius. Sebuah studi dari Emory University menunjukkan bahwa pasangan yang menghabiskan lebih dari $20.000 untuk pernikahan mereka 1,6 kali lebih mungkin untuk bercerai. Namun, Dellino menekankan bahwa bukan hanya jumlahnya, melainkan ketidakjujuran finansial yang menyertainya. Ketidakjujuran ini dapat merusak kepercayaan sejak awal, yang merupakan pilar utama dalam sebuah pernikahan.

Selain itu, membuat 'lelucon' atau keluhan publik tentang pernikahan sebelum dimulai juga merupakan tanda komitmen yang goyah. Dellino memiliki banyak klien yang mantan pasangannya membuat komentar semacam itu pada hari pernikahan mereka, dan mereka berharap telah membatalkan pernikahan daripada menertawakannya. Komentar seperti 'bola dan rantai' bukanlah lelucon, melainkan deklarasi keengganan untuk menjadi pasangan sejati. Ini menunjukkan bahwa salah satu pihak mungkin belum sepenuhnya siap atau berkomitmen pada ikatan pernikahan, yang dapat menjadi sumber konflik berkelanjutan.

Membangun Pernikahan yang Kuat

Meskipun "7 hal di pernikahan" ini mungkin terdengar menakutkan, tujuannya bukan untuk menakuti, melainkan untuk memberikan kesadaran. Mengenali tanda-tanda bahaya ini sejak dini memungkinkan pasangan untuk mengambil tindakan korektif. Ini bisa berarti mencari konseling pra-pernikahan, belajar menetapkan batasan yang sehat, atau memperbaiki pola komunikasi. Pernikahan yang kuat dibangun di atas rasa hormat, kepercayaan, dan komitmen yang tulus dari kedua belah pihak. Dengan perhatian dan upaya yang tepat, setiap pasangan memiliki kesempatan untuk mengatasi tantangan dan membangun hubungan yang langgeng dan bahagia.

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

  • Vinsensia Dianawanti

    Author

    Vinsensia Dianawanti
Read Entire Article
Relationship |