
FAJAR.CO.ID,JAKARTA — Badan Pusat Statistik (BPS) beberapa waktu lalu dilaporkan ke Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Karena laporan data pertumbuhan ekonomi kuartal II dianggap anomali.
Sampai saat ini, hal tersebut masih menjadi perhatian publik. Sejumlah kalangan meresponsnya meragam.
Pegiat Media Sosial, Teguh Sarwono, memplesetkan kepanjangan BPS. Mestinya Badan Pusat Statistik, ia plesetkan sebagai Biar Prabowo Senang.
“BPS (Biar Prabowo Senang),” tulis Teguh menanggapi pengaduan terhadap BPS, dikutip Selasa (26/8/2025).
Aduan sebelumnya dilakukan Center of Economic and Law Studies (Celios).
Mereka menilai data pertumbuhan ekonomi kuartal II 2025 anomali.
Direktur Celios, Media Wahyudi Askar mengatakan aduan itu karena keprihatinan.
"Kami menulis surat ke PBB sebagai langkah untuk mengungkapkan keprihatinan soal kemungkinan inkonsistensi dan ketidakakuratan data PDB di kuartal kedua yang dirilis BPS," kata Media, awal Agustus lalu.
Data yang dilaporkan BPS, menurutnya membingungkan. Karena di luar dari ekspektasi.
“Karena banyak ekonom, pelaku usaha, dan masyarakat jelas bingung. Karena data pertumbuhan ekonomi 5,12 persen itu di luar ekspektasi," terangnya.
Pengamat Politik Rocky Gerung juga sempat mengkritik BPS.
Ia menjelaskan, di dalam dunia di mana data menjadi sumber validitas dari ekonomi satu negara. Maka investor akan mengusut pertumbuhan ekonomi Indonesia itu betul-betul data yang valid.
“Itu dalam soal datanya. Kedua, apakah metodologi untuk menghasilkan data itu terandal, kemampuan secara metodologis reliable. Apakah reliability dari metodologi itu bisa diperiksa secara akademis?” ujar Rocky dikutip dari YouTube Rocky Gerung Official, Senin (11/8/2025).
Dapatkan berita terupdate dari FAJAR di: