Cari Hal Baik, Klik yang Bijak – Buya Hamka Mengingatkan

14 hours ago 6

Oleh: Adekamwa*

Suatu hari, seorang lelaki menemui Buya Hamka dengan nada penuh rasa ingin tahu:

“Subhanallah, Buya,” ujarnya. “Saya benar-benar tak menyangka—ternyata di Mekah itu ada pelacur, Buya. Bagaimana bisa?”

Buya Hamka menjawab dengan nada tenang:

“Oh ya. Saya baru saja dari LA dan NY di Amerika. Masyaallah, ternyata di sana tidak ada pelacur.”

Lelaki itu tak percaya dan bereaksi cepat:

“Ah, mana mungkin Buya! Di Mekah saja ada, pasti di Amerika jauh lebih banyak lagi!”

Lalu Buya Hamka menimpali dengan senyum teduh:

“Kita memang hanya dipertemukan dengan apa-apa yang kita cari.”

Pernyataan sederhana itu menegaskan bahwa arah hidup, bahkan arah bangsa, ditentukan oleh apa yang dicari masyarakat dalam pikirannya.

Fenomena viral akhir Juli 2025 di Makassar memperlihatkan betapa ucapan Buya Hamka tetap relevan. Sebuah kasus kriminal biasa antara dua warga dari Luwu dan Makassar ditangani aparat sebagai persoalan individual. Namun di media sosial, narasi itu dipelintir menjadi “konflik antarsuku”. Hoaks tersebut hampir memicu ketegangan sosial karena publik lebih tertarik pada sensasi ketimbang fakta.

Ketika masyarakat terbiasa mencari keburukan, maka keburukan itulah yang ditemukan. Hoaks melahirkan krisis kepercayaan, meretakkan hubungan antarwarga, dan menjadikan ruang publik rapuh.

Sebaliknya, bila warga menuntut klarifikasi dan berpikir jernih, ruang digital bisa menjadi sarana pemulihan wacana yang sehat.

Tanggung jawab menjaga arah wacana tidak semata di tangan pemerintah, melainkan di pundak setiap warga. Langkah sederhana seperti menahan diri sebelum membagikan kabar, memeriksa sumber, dan menilai situasi dengan akal sehat alih-alih emosi, sudah cukup untuk menutup pintu bagi narasi palsu.

Dapatkan berita terupdate dari FAJAR di:

Read Entire Article
Relationship |