KDRT Tidak Selalu Dimulai dengan Pukulan: Bahaya Ancaman dan Manipulasi Emosional

3 days ago 9

Fimela.com, Jakarta Tidak semua kekerasan dimulai dengan luka fisik. Banyak tragedi yang lahir dari kata-kata yang tampak kecil, dari ancaman yang dianggap emosi sesaat, dari kontrol yang dibungkus alasan cinta. Tragedi yang menimpa Alvaro Kiano, bocah enam tahun yang kehilangan nyawanya di tangan ayah tiri, Alex Iskandar, menjadi pengingat bahwa kekerasan dalam rumah tangga sering bermula dari kalimat yang melukai sebelum berubah menjadi pukulan.

KDRT tumbuh perlahan. Dimulai dari nada suara yang meninggi, kecemburuan yang dipaksakan sebagai bentuk perhatian, hingga kalimat seperti “kamu bodoh”, “kamu tidak berguna”, atau “tidak ada yang mau sama kamu selain aku”. Pola ini bukan kemarahan sesaat, melainkan jalur pembentukan dominasi. Banyak korban tidak melihatnya sebagai bahaya, karena tidak ada luka fisik. Padahal luka mental yang ditanam pelan-pelan bisa menghancurkan harga diri dan kemampuan berpikir jernih.

Ancaman seperti candaan, kontrol sosial, pembatasan komunikasi dengan keluarga atau teman, hingga manipulasi emosi, semua adalah bentuk kekerasan psikologis. Menurut definisi kekerasan psikologis, kontrol, intimidasi, dan penghinaan adalah bagian dari strategi pelemahan mental untuk membuat korban takut, bergantung, dan kehilangan suara diri. Banyak hidup hancur bukan karena pukulan pertama, melainkan karena red flag yang terlewat dan diabaikan.

Bahaya Pertama Bernama Kontrol Psikologis

Hubungan yang sehat memberi kebebasan, ruang tumbuh, dan rasa aman. Hanya saja dalam dinamika kekerasan, hubungan berubah menjadi sistem kontrol satu arah.

Ancaman seperti “kamu akan kehilangan anakmu” atau “kamu hanya boleh bicara padaku” bukan ekspresi cinta, tetapi strategi penaklukan. Ketika pelaku mulai memutus relasi korban dengan dunia luar, kekerasan mulai berakar.

Sebuah penelitian mencatat bahwa 80% orang dalam hubungan intim mengalami agresi emosional atau verbal sebelum kekerasan fisik muncul. Angka ini menunjukkan bahwa kekerasan bukan peristiwa tiba-tiba, tetapi proses yang dibangun melalui repetisi kontrol dan intimidasi. Pelaku menciptakan ketakutan yang tidak selalu terlihat, tetapi bekerja seperti tembok tak kasatmata yang membuat korban tidak bisa bergerak.

Dalam kasus Alvaro, kesaksian ibu kandungnya menyebut bahwa pelaku temperamental, pencemburu, dan sering mengancam. Pola ini konsisten dengan kekerasan berbasis kontrol: dimulai dari kata-kata, lalu isolasi emosional, sebelum berubah menjadi kekerasan fisik. Ketika pelaku tetap memaksa hadir setelah hubungan berakhir, itu bukan kerinduan, tetapi keinginan mempertahankan kekuasaan.

Luka Emosional yang Tidak Terlihat tetapi Bisa Sangat Menghancurkan

Dampak kekerasan verbal tidak kecil. Korban menunjukkan gejala kecemasan, sulit tidur, hilangnya rasa percaya diri, bahkan kehilangan kemampuan mengambil keputusan sederhana. Korban sering bertanya-tanya apakah dirinya benar-benar salah, karena manipulasi membuat batas antara realita dan gaslighting menjadi kabur.

Penelitian dari E-Jurnal UIN Jember mencatat bahwa korban kekerasan emosional sering mengalami gejala serupa PTSD. Artinya, meskipun tidak ada bekas luka di tubuh, otak dan sistem saraf mengalami trauma yang setara dengan kekerasan fisik. Luka emosional bekerja seperti erosi: pelan, diam, tetapi menghancurkan pondasi diri secara total.

Sayangnya, masyarakat kadang melihat kekerasan verbal sebagai “hal biasa dalam hubungan”. Banyak korban akhirnya diam, bukan karena pasrah, tetapi karena sudah dilemahkan secara mental melalui gaslighting, isolasi sosial, dan ancaman. Diam bukan tanda pasrah. Diam adalah tanda tubuh dan pikiran sedang melindungi diri dari bahaya yang lebih besar.

Ketika Anak Menjadi Bagian dari Siklus Kekerasan

Anak tidak selalu menjadi target utama, tetapi sering menjadi bagian dari dinamika kekerasan: dijadikan alat tekanan, ancaman emosional, atau saksi hidup terhadap konflik yang tidak seharusnya mereka dengar atau lihat. Dalam banyak kasus, luka emosional pada anak bertahan seumur hidup dan membentuk pola hubungan mereka di masa depan.

Dalam tragedi Alvaro, ini bukan hanya kasus kekerasan terhadap anak, tetapi kegagalan memahami tanda awal KDRT. Kecemburuan ekstrem, pemaksaan kontrol, dan ancaman yang dibiarkan tanpa intervensi menjadi jalur yang akhirnya membawa kekerasan fisik fatal. Ketika pelaku kembali setelah hubungan selesai dan berkata “aku hanya ingin keluarga ini utuh”, padahal sebelumnya melukai, itu bukan cinta, melainkan sudah menjadi semacam sinyal bahaya.

Anak membutuhkan lingkungan aman untuk tumbuh. Ketika rumah menjadi tempat yang menakutkan, dunia mereka runtuh.

Dampaknya bukan hanya fisik, tetapi identitas dan masa depan ikut terancam. Karena itu, tragedi seperti ini harus menjadi alarm keras: kekerasan domestik tidak hadir tiba-tiba. Kekerasan seperti ini tumbuh dari kata-kata kasar yang dibiarkan, ancaman yang dianggap emosi sesaat, dan manipulasi yang dibungkam.

Tidak semua luka terlihat. Tidak semua jeritan terdengar. Hanya saja setiap sinyal kontrol dan ancaman pantas didengar, dipertanyakan, dan dihentikan sebelum berubah menjadi tragedi.

Setiap orang berhak hidup aman, dihormati, dan dicintai tanpa takut dihancurkan oleh orang yang seharusnya melindungi. Dan jika sedang berada dalam situasi itu, ingat satu hal: tidak ada kekerasan yang layak dinormalisasi, dan kita semua berhak merasa nyaman dan aman dalam setiap hubungan.

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

  • Endah Wijayanti
Read Entire Article
Relationship |