Setelah Lebaran, Apa yang Terjadi pada Emosi Kita?

9 hours ago 4
Andi Khaerul Imam, Alumni Magister Psikologi Universitas Gadjah Mada

Penulis: Andi Khaerul Imam, Alumni Magister Psikologi Universitas Gadjah Mada

Lebaran telah berlalu. Namun, tidak semua orang mengalaminya dengan cara yang sama. Di satu sisi, ada yang merasakan kehangatan dari pertemuan dan kebersamaan. Di sisi lain, tidak sedikit yang justru mulai kembali pada ritme lama, bahkan kehilangan sebagian ketenangan yang sempat dirasakan selama Ramadan.

Padahal, puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga. Ramadan dapat dipahami sebagai proses pembentukan ulang diri, sebuah “rekayasa psikologis dan spiritual” yang perlahan membentuk manusia menjadi lebih sadar, lebih tenang, dan lebih terkendali.

Lalu, apa yang sebenarnya terjadi pada diri kita setelah melewati proses tersebut?

Salah satu perubahan yang paling terasa adalah meningkatnya stabilitas emosional. Puasa melatih kemampuan menahan diri, yang dalam psikologi dapat dijelaskan melalui konsep buffering effect, yaitu kondisi ketika suatu faktor mampu meredam intensitas emosi dan tekanan.

Dalam konteks ini, Ramadan berperan sebagai “penyangga” yang membuat respons emosional menjadi lebih terkendali. Penelitian yang dilakukan oleh Walid Briki dan koleganya menunjukkan bahwa selama Ramadhn, emosi cenderung menjadi lebih stabil dan tidak terlalu reaktif. Kondisi ini membuka ruang bagi introspeksi, membuat individu lebih sadar terhadap pikiran dan perilakunya sendiri.

Perubahan ini juga berdampak pada penurunan tingkat stres, kecemasan, dan depresi. Ketika emosi menjadi lebih stabil dan individu memiliki ruang untuk memahami dirinya, muncul kondisi yang dalam psikologi dikenal sebagai mindfulness.

Read Entire Article
Relationship |