“RT/RW Bukan Sekadar Jabatan: Ini Tentang Memakna Kata Rukun”

2 days ago 7
Muliadi Saleh, Penulis, Pemikir, Penggerak Literasi dan Kebudayaan

Penulis: Muliadi Saleh, Esais Reflektif dan Direktur Eksekutif Lembaga SPASIAL

Dalam wacana sosiologi perkotaan, para pakar sering menyebut bahwa kehidupan manusia modern hanya menemukan kehangatannya ketika ia bertemu ruang sosial yang paling dekat—ruang yang tidak mengharuskannya menjadi siapa pun selain dirinya sendiri. Di Makassar, ruang itu bernama RT dan RW. Dua lembaga kecil yang, meski sederhana di pandangan banyak orang, sesungguhnya adalah fondasi yang menahan gemuruh kota besar. Menjelang pemilihan ketua RT dan RW pada 3 Desember 2025, kita diminta kembali menafsir ulang makna kata rukun yang tersemat pada keduanya. Sebab rukun bukan sekadar nama, melainkan cita-cita sosial yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Sejarah RT dan RW bukan hanya sejarah administratif. Dalam kajian administrasi publik, lembaga ini memang diformalkan setelah kemerdekaan untuk memperkuat fungsi pemerintahan lokal. Namun antropolog telah lama mencatat bahwa jauh sebelum negara hadir dengan formulir, rapat, dan stempel, masyarakat Nusantara telah hidup dalam ikatan yang mirip: paguyuban, lingkar tetangga, kelompok kampung, dan solidaritas lorong. Dengan kata lain, RT dan RW adalah bentuk modern dari tradisi kuno tentang bagaimana manusia menjaga kedekatannya. Ia lahir dari kebutuhan untuk hidup harmonis, bukan dari keputusan birokrasi semata.

Sosiolog Robert Putnam menyebut bahwa keberhasilan komunitas sangat ditentukan oleh modal sosial—jaringan kepercayaan dan norma yang membuat orang mau bekerja sama. RT dan RW adalah laboratorium pertama modal sosial itu. Di sinilah warga belajar mengelola perbedaan, mencari solusi bersama, dan membangun rasa saling percaya dalam skala paling kecil. Clifford Geertz pernah mengatakan bahwa masyarakat hanya dapat bertahan jika ia memiliki “komunitas moral”—ikatan nilai yang membuat orang merasa bertanggung jawab satu sama lain. RT dan RW adalah wajah nyata dari komunitas moral itu, tempat warga menempa empati di tengah rutinitas.

Dapatkan berita terupdate dari FAJAR di:

Read Entire Article
Relationship |