Menguak Perdebatan Natalius Pigai vs Zainal Mochtar: Refleksi Demokrasi dan Kerendahan Hati Intelektual

5 hours ago 3
Natalius Pigai dan Zainal Arifin Mochtar (Kolase foto)

FAJAR.CO.ID - Pernyataan "tidak mungkin saya salah" yang diungkapkan Menteri Hak Asasi Manusia Natalius Pigai memicu perdebatan yang menggugah refleksi mendalam tentang dinamika demokrasi dan etika kekuasaan di Indonesia. Keyakinan kuat Pigai atas pengalamannya di bidang HAM menimbulkan respons intelektual dari Guru Besar Hukum Tata Negara Zainal Arifin Mochtar yang mengunggah kutipan Imam Al-Ghazali untuk mengajak publik merenungkan kesadaran diri terhadap pengetahuan.

Perdebatan yang Memicu Refleksi dan Polarisasi Publik

Natalius Pigai, yang dikenal sebagai aktivis HAM vokal dan berpengalaman, menyatakan dalam sebuah forum publik, "Dari umur 5 tahun sudah paham HAM, tidak mungkin saya salah." Pernyataan ini menyebar luas di media sosial dan menimbulkan dua interpretasi utama: sebagai ekspresi keyakinan diri atau sikap absolut yang menutup ruang kritik.

Sebagai tanggapan, Zainal Mochtar membagikan kutipan Imam Al-Ghazali yang mengelompokkan manusia berdasarkan kesadaran akan pengetahuan mereka dan menantang publik dengan pertanyaan, "Kira-kira anda semua masuk yang mana?" Katanya, unggahan tersebut merupakan sindiran halus terhadap klaim absolut Pigai tanpa menyebut nama secara langsung.

Media sosial mempercepat eskalasi polemik ini dengan terbentuknya dua kubu: pendukung Pigai yang menilai pernyataannya sebagai ketegasan dan kepercayaan diri, serta pendukung Zainal yang melihat kutipan Al-Ghazali sebagai pengingat agar pejabat publik tidak terjebak dalam klaim absolut. Judul-judul media yang menonjolkan frasa "tidak mungkin saya salah" semakin memperkuat persepsi konfrontatif dan memperlebar polarisasi di kalangan publik.

Read Entire Article
Relationship |