Ketika Syariah Dibela dengan Pseudosains

5 hours ago 2
Dr Mursyid Fikri

Oleh: Dr Mursyid Fikri
(Dosen Ilmu Falaq Unismuh Makassar)

Perdebatan tentang awal bulan Hijriah semestinya menjadi ruang perjumpaan antara dalil, ilmu, dan kerendahan hati intelektual. Namun, tidak jarang ia justru berubah menjadi panggung di mana fanatisme merasa cukup berbicara atas nama syariah, meski tanpa ketelitian metodologis yang memadai.

Di titik itulah masalah sebenarnya muncul, bukan sekadar pada perbedaan hasil, melainkan pada cara berpikir yang terlalu cepat menuduh, terlalu sederhana membaca persoalan, dan terlalu yakin memasuki wilayah ilmu yang tidak sepenuhnya dipahami.

Karena itu, ketika membaca opini Prof. Tasrief Surungan berjudul “Mendudukkan KHGT Berbasis Syariah”, yang segera terasa bukan hanya perbedaan pandangan, melainkan kegopohan metodologis yang dibungkus dengan bahasa kepastian.

Tulisan itu tampak hendak membela syariah, tetapi justru jatuh pada pembacaan yang kaku terhadap rukyat, curiga terhadap hisab, dan kurang cermat membaca arah pembaruan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT). Di sana, problemnya bukan semata pada kesimpulan, melainkan pada bangunan argumen yang sejak awal sudah berdiri di atas dikotomi-dikotomi rapuh.

Masalahnya juga bukan karena penulisnya seorang fisikawan. Masalahnya muncul ketika seseorang melangkah terlalu jauh ke wilayah ilmu falak dan fikih penanggalan, tetapi tidak lebih dahulu menertibkan perangkat bacanya.

Akibatnya, yang lahir bukan kejernihan, melainkan kekacauan kategoris, rukyat dilawankan dengan hisab, Wujudul Hilal dibenturkan dengan KHGT, visibilitas lokal dipakai untuk mengadili sistem global, bahkan instrumen teknis seperti garis batas tanggal diseret-seret seolah menyentuh perkara akidah.

Read Entire Article
Relationship |