Jiwa yang “Stunting” di Akhir Ramadan? Meraih Kedewasaan Spiritual di Penghujung Bulan Mulia

4 hours ago 1
Muliadi Saleh, Esais Reflektif dan Arsitek Kesadaran

Penulis : Muliadi Saleh, Esais Reflektif dan Arsitek Kesadaran

Di penghujung Ramadhan,  kita bisa berada di dua rasa sekaligus.  Rasa haru karena bulan ini hampir pergi, dan rasa bertanya tentang diri sendiri. Tiga puluh hari berlalu. Hari demi hari yang dipenuhi sahur, lapar, doa, dan sujud yang mungkin lebih panjang dari biasanya. Hati mulai bertanya, apakah jiwa kita benar-benar bertumbuh?

Dalam dunia kesehatan, kita mengenal istilah stunting—sebuah kondisi ketika tubuh anak tidak berkembang secara optimal karena kekurangan gizi dalam waktu lama. Tubuhnya ada, tetapi pertumbuhannya tertahan. Tingginya tidak sebanding dengan usianya.

Apakah hal yang sama bisa terjadi pada jiwa manusia?
Barangkali ada yang bisa kita sebut “stunting jiwa”
Seseorang bisa bertambah usia, tetapi tidak bertambah kedalaman jiwanya. Ia shalat, tetapi tidak semakin khusyuk. Ia berpuasa, tetapi tidak semakin lembut. Ia membaca Al-Qur’an, tetapi hatinya tetap keras seperti sebelum Ramadhan datang.

Ritualnya bertambah, tetapi kesadarannya tidak bertumbuh.
Ramadhan sejatinya adalah program nutrisi bagi ruh manusia.
Puasa melatih pengendalian diri.
Sedekah menumbuhkan empati.
Tarawih menumbuhkan kedekatan dengan langit.
Tilawah memberi gizi bagi hati.

Jika semua ini dijalani dengan kesadaran, maka Ramadhan akan menumbuhkan kedewasaan spiritual.  Jiwa menjadi lebih tenang, hati lebih lapang, dan pandangan hidup lebih jernih.
Namun jika semua itu hanya menjadi rutinitas tanpa perenungan, maka Ramadhan bisa saja berlalu seperti angin yang lewat di permukaan air. Ramadhan tidak meninggalkan jejak di kedalaman jiwa.
Di sinilah letak perbedaannya.

Read Entire Article
Relationship |