Hari Tuberkulosis Sedunia 2026: Antara Ambisi Bebas TB dan Anggaran yang Kian Tipis

9 hours ago 5
Kasri Riswadi

Oleh: Kasri Riswadi
(Ketua Yamali TB/Yayasan Masyarakat Peduli TB)

Setiap tanggal 24 Maret, dunia memperingati Hari Tuberkulosis (TB) Sedunia. Tahun ini, tema Nasional "Sinergi, Aksi, dan Upaya Tuntaskan TB" bukan sekadar jargon, melainkan panggilan darurat. Kita sedang berada di persimpangan jalan: antara ambisi eliminasi 2030 atau kemunduran akibat kepungan disinformasi dan krisis pendanaan.

Angka Bicara: Kita Sedang Tidak Baik-baik Saja

Data Global TB Report menunjukkan kenyataan pahit. Dunia mencatat sekitar 10,6 juta kasus baru TB. Indonesia tetap berada di posisi peringkat kedua penyumbang kasus terbesar di dunia. Dengan estimasi lebih dari 1 juta kasus dan angka kematian mencapai 134.000 jiwa per tahun, kita kehilangan 15 nyawa setiap jam akibat penyakit yang bisa disembuhkan ini.

Di Sulawesi Selatan, beban kasus tetap tinggi dan fluktuatif, menuntut kerja ekstra di tengah keterbatasan fasilitas yang ada.

Efisiensi Anggaran: Ancaman dari Dalam

Di tengah beban kasus yang menggunung, kita justru dihadapkan pada tantangan domestik berupa efisiensi anggaran. Pemangkasan anggaran kesehatan secara signifikan di tingkat nasional berdampak langsung pada operasional penanggulangan TB. Efisiensi ini berisiko memperlemah pengadaan alat deteksi, stok obat, hingga insentif bagi kader di lapangan.

Ironisnya, saat kita butuh akselerasi, mesin penggeraknya justru dikurangi bahan bakarnya. Jika anggaran terus diperketat, target eliminasi 2030 akan menjadi sekadar mimpi di siang bolong.

Bantuan Global dan Ketergantungan Kita

Kondisi diperparah dengan dinamika bantuan internasional. Kita harus jujur bahwa selama ini ketergantungan Indonesia terhadap dana hibah luar negeri sangat tinggi. Namun, kini awan mendung menyelimuti pendanaan global.

Read Entire Article
Relationship |