Harga Minyak di Atas USD100, Ferry Irwandi: Indonesia Kena ‘3 Shock Sekaligus’

2 hours ago 2
Ferry Irwandi

FAJAR.CO.ID - Lonjakan harga minyak dunia yang kini menembus kisaran USD105 hingga USD110 per barel memicu tekanan besar terhadap perekonomian Indonesia. Analis kebijakan publik Ferry Irwandi menilai kondisi ini menyebabkan Indonesia mengalami "3 shock sekaligus" yang berdampak pada subsidi energi, neraca pembayaran, dan nilai tukar rupiah.

Beban Energi APBN Membengkak Drastis

Ferry menegaskan bahwa Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Indonesia biasanya disusun dengan asumsi harga minyak sekitar USD70–USD80 per barel. Namun, kenaikan harga minyak hingga USD110 per barel menciptakan selisih sekitar USD30–USD40 per barel dari asumsi awal tersebut.

"Kalau kita pakai hitungan kasar: 1,6 juta barel × USD35 selisihnya, sekitar USD56 juta per hari," jelas Ferry, mengacu pada konsumsi minyak Indonesia yang diperkirakan mencapai 1,6 juta barel per hari.

Jika dikonversi ke rupiah, tambahan biaya energi ini bisa mencapai sekitar Rp900 miliar per hari atau hampir Rp330 triliun dalam setahun.

"Gede? Banget," katanya menegaskan besarnya beban tambahan tersebut.

Tekanan Berat pada Neraca Pembayaran

Selain membengkaknya subsidi energi, Ferry juga mengingatkan risiko terhadap neraca pembayaran Indonesia. Sebagai negara net importer minyak, Indonesia mengimpor sekitar 700 ribu barel produk minyak per hari.

Dengan kenaikan harga minyak sebesar USD40 per barel, tambahan biaya impor energi bisa mencapai USD28 juta per hari atau sekitar USD10 miliar per tahun. Angka ini berpotensi memperlebar defisit transaksi berjalan Indonesia.

Rupiah Berisiko Melemah dan Inflasi Naik

Ferry juga menyoroti potensi pelemahan nilai tukar rupiah akibat lonjakan harga minyak. Dalam situasi global yang memanas, investor cenderung membeli dolar AS dan menarik dana dari pasar negara berkembang.

Read Entire Article
Relationship |