Guru Besar UGM Semprot Tenaga Ahli KSP Ulta Levenia: Medioker Dijadikan Pengurus Negara

3 hours ago 1
Ulta Levenia

FAJAR.CO.ID, JAKARTA -- Pernyataan Tenaga Ahli Kantor Staf Presiden (KSP), Ulta Levenia, terkait maraknya hoaks yang dianggap menyudutkan pemerintah Indonesia dalam isu konflik Iran-Israel memicu respons dari kalangan akademisi.

Guru Besar Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof Zainal Arifin Mochtar, mengaku tidak sepakat terhadap pernyataan tersebut.

Ia menegaskan bahwa fenomena itu mencerminkan persoalan kualitas dan kompetensi dalam pengelolaan pemerintahan.

Singgung Ketidakkompetenan Pengurus Negara

Uceng, sapaannya, menilai pernyataan yang disampaikan tenaga ahli KSP tersebut sebagai contoh dari persoalan yang lebih luas.

“Mbak-mbak ini hanya satu dari sekian banyak contoh ketidakkompetenan," ujar Uceng dikutip fajar.co.id, Jumat (13/3/2026).

Ia juga menyindir kondisi ketika orang dengan kemampuan biasa justru mendapat posisi penting dalam pemerintahan.

“Medioker, tapi dijadikan pengurus negara," cetusnya.

Konsep “Mediocracy”

Lebih jauh, Uceng mengutip pandangan filsuf Kanada Alain Deneault mengenai konsep mediocracy.

Dikatakan Profesor kelahiran Makassar ini, konsep tersebut menggambarkan kondisi ketika kepatuhan lebih dihargai dibandingkan kecerdasan.

“Kata Alain Deneault, mediocracy itu adalah ketika kepatuhan lebih dihargai daripada kecerdasan," Uceng menuturkan.

Ia juga menyinggung kecenderungan pengelolaan pemerintahan yang lebih menekankan pencitraan dibandingkan substansi kebijakan.

“Ketika manajemen citra lebih penting daripada substansi. Dan juga ketika keselamatan karier lebih penting daripada kebenaran," imbuhnya.

Kutip Pandangan Vaclav Havel

Selain itu, Uceng juga mengutip pandangan mantan Presiden Ceko, Vaclav Havel, mengenai faktor yang dapat menyebabkan kegagalan sebuah negara.

Read Entire Article
Relationship |