Ayatollah Seyed Mojtaba Khamenei Rilis Pernyataan Pertama, Ini Isi Lengkapnya

2 hours ago 2
Pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran, Ayatollah Seyed Mojtaba Khamenei,

FAJAR.CO.ID, TEHERAN -- Ayatollah Seyed Mojtaba Khamenei, Pemimpin Revolusi Islam yang baru terpilih, merilis pesan pertamanya yang ditujukan kepada bangsa Iran, di mana beliau bersumpah bahwa Iran tidak akan mengabaikan pembalasan atas darah para syuhada.

“Saya meyakinkan semua orang bahwa kami tidak akan mengabaikan pembalasan atas darah para syuhada Anda. Pembalasan yang kami maksudkan tidak hanya terkait dengan kesyahidan Pemimpin Revolusi yang agung; melainkan, setiap anggota bangsa yang menjadi syuhada oleh musuh adalah subjek terpisah untuk berkas pembalasan,” kata Ayatollah Khamenei dalam pesan tersebut, yang isinya sebagai berikut seperti dilansir media pemerintah setempat Tasnimnews:

Dengan nama Allah, Yang Maha Pengasih, Yang Maha Penyayang

“Apa pun tanda yang Kami hapus atau Kami lupakan, Kami akan mendatangkan tanda yang lebih baik atau serupa dengannya.”

Pada awal pidato saya, saya harus menyampaikan belasungkawa kepada junjungan saya, semoga Allah Yang Maha Tinggi mempercepat kemunculannya kembali, pada kesempatan syahidnya pemimpin Revolusi yang terhormat, (Ayatollah Seyed Ali) Khamenei yang bijaksana dan terkasih. Saya memohon kepada Yang Mulia doa untuk kesejahteraan setiap anggota bangsa Iran yang agung, bahkan untuk semua Muslim di dunia, untuk semua hamba Islam dan Revolusi, untuk para syuhada dan keluarga yang berduka dari gerakan Islam, terutama mereka yang berasal dari perang baru-baru ini, dan khususnya untuk diri saya sendiri.

Bagian kedua pidato saya adalah kepada bangsa Iran yang agung. Pertama-tama, saya harus secara singkat menyatakan posisi dan pendirian saya mengenai pemungutan suara Majelis Ahli yang terhormat. Saya, hamba Anda, Seyed Mojtaba Hosseini Khamenei, diberitahu tentang hasil pemungutan suara Majelis Ahli yang terhormat secara bersamaan dengan Anda, melalui siaran televisi Republik Islam. Bagi saya, menduduki kursi yang pernah ditempati oleh dua pemimpin besar, Imam Khomeini Agung dan syahid Khamenei, adalah tugas yang berat. Ini karena posisi ini menyimpan warisan seseorang yang, setelah lebih dari 60 tahun berjuang di jalan Allah dan meninggalkan segala macam kesenangan dan kenyamanan, berubah menjadi permata yang bersinar dan tokoh terkemuka, tidak hanya di era sekarang tetapi sepanjang sejarah para penguasa negara ini. Baik kehidupan maupun cara kematiannya terjalin dengan kemuliaan dan martabat yang berasal dari kepercayaan pada kebenaran.

Read Entire Article
Relationship |