Autisme: Bukan Aib, Bukan Tren, Bukan Mitos

3 hours ago 1
Ilustrasi hari autisme sedunia. (Gemini AI)

Hari Autisme Sedunia dan Pentingnya Menghapus Stigma dengan Pengetahuan yang Benar

Oleh: Minsarnawati*

Setiap 2 April, momentum publik diajak peduli pada autisme. Kita mungkin semakin sering mendengar kata “autisme”, tetapi belum tentu semakin paham. Di banyak tempat, autisme masih dianggap memalukan, disalahpahami sebagai akibat pola asuh, bahkan dikelilingi hoaks yang menyesatkan. Karena itu, peringatan Hari Autisme Sedunia perlu diisi dengan edukasi yang benar, bukan sekadar simpati seremonial.

Kita perlu jujur. Masalah kita bukan hanya kurang peduli, melainkan masih banyak orang yang peduli dengan pengetahuan yang salah. Ada yang menganggap autisme memalukan bagi keluarga, ada yang menyebutnya sekadar “tren zaman sekarang”, dan ada pula yang percaya autisme disebabkan oleh pola asuh, vaksin, makanan tertentu, atau hal-hal mistis. Literasi masyarakat tentang autisme masih belum sehat.

Padahal autisme bukan aib, bukan tren, dan bukan mitos. Dalam bahasa sederhana, autisme adalah kondisi perkembangan saraf yang memengaruhi cara seseorang berkomunikasi, berinteraksi, belajar, dan merespons lingkungan.

Autisme disebut spektrum karena bentuk, kebutuhan, dan tingkat dukungan tiap individu bisa berbeda. Karena itu, tidak semua anak autistik terlihat sama dan tidak semua perilaku yang dianggap “berbeda” otomatis berarti autisme.

Dalam kehidupan sehari-hari, bentuk gejala autisme bisa muncul dalam hal-hal yang sering dianggap sepele. Misalnya, anak jarang menatap mata, tidak merespons saat dipanggil namanya, tidak menunjuk untuk menunjukkan sesuatu yang menarik, atau tampak tidak tertarik berbagi perhatian dengan orang lain.

Read Entire Article
Relationship |